Senin, 30 November 2015

Literasi Sekolah Menyongsong Generasi Emas Indonesia Tahun 2045



Literasi Sekolah Menyongsong Generasi Emas Indonesia Tahun 2045
Oleh : Desi Setyani

Pada tanggal 12 September 2015, saya mendapat tugas dari kepala sekolah untuk mengikuti kegiatan pelatihan penulisan teks yang diselenggarakan oleh Kantor Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur yang akan dilaksanakan pada tanngal 14 s/d 16 September 2015 di Hotel Romyta. Perasaan saya pastinya senang karena saya akan mendapatkan sebuah ilmu baru. Selain itu, saya juga cemas dengan judul yang diberikan oleh panitia yaitu “Pelatihan Penulisan Teks bagi Guru bahasa Indonesia”. Dalam hati saya bertanya, apakah saya bisa menulis? Kalau sekadar menulis cerpen yang bahasa anak – anak sekarang disebut cerita abal – abal, mungkin saya bisa. Tapi kalau menulis teks???? Teks di sini dalam pemahaman saya pastinya teks seperti yang tertuang dalam buku – buku pelajaran. Apakah saya bisa? Hanya Tuhan yang tahu.

Mengawali tulisan ini, saya ingin bercerita sedikit tentang siapa saya dan apa yang sedang saya kerjakan saat ini. Saat ini, saya sedang bertugas menjadi seorang guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah Negeri Kupang serta staff Wakamad (Wakil Kepala Madrasah) bagian kurikulum. Sejujurnya, menjadi seorang guru bukanlah cita – cita saya yang sebenarnya. Tapi ternyata inilah jalan yang Tuhan pilihkan untuk saya. Mengutip kata – kata dari Ustadz saya sewaktu di Sidoarjo, apa yang saya jalani saat ini ibaratnya “tersesat di jalan yang benar”.
Sebagai seorang guru, saya masih jauh dari kata sempurna. Saya belum bisa menjadi teladan bagi anak didik saya. Saya masih sering marah – marah kepada anak didik saya, bahkan tak segan saya memberikan sanksi ketika mereka melanggar aturan yang saya terapkan. Ingin sekali saya seperti ayah mertua saya yang juga guru Bahasa Indonesia. Sekalipun dari penampilan beliau terkesan garang tapi siswa – siswi beliau segan kepada beliau. Ingat segan bukan takut. Beliau senantiasa mengingatkan kepada saya untuk mengajar dengan hati. Namun, sungguh kata – kata itu begitu mudah untuk diucapkan tapi tak mudah untuk diterapkan. Berkali – kali saya mencoba dan berusaha namun emosi kadang masih mengalahkan keinginan saya. Tapi, insyaallah saya tidak akan pernah jemu untuk berusaha menjadi guru yang spesial di mata murid saya. Seorang guru yang disegani, sekaligus bisa menjadi tempat mereka berkeluh kesah ketika mereka ditimpa masalah. Guru yang bukan sekadar mengajar tapi juga membimbing serta mendidik. Ya Rabb, berikanlah aku kesabaran dalam menjalani profesiku ini dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas – tugasku.

Literasi Sekolah dan Budi Pekerti
Masih terekam dalam ingatan saya, ketika saya masih kecil ibu pernah berkata kepada saya bahwa sopan santun zaman sekarang sudah berkurang. Di zaman ibu masih kecil seorang anak atau siswa ketika guru atau orang tua marah tidak akan berani menatap mata orang tersebut. Berbeda dengan zaman saya yang ibu katakan terlalu berani. Orang tua marah bukannya menunduk menyesali kesalahan tapi malah menegakkan kepala seakan – akan menantang. Setelah saya menjadi seorang guru, ternyata saya juga mengalami hal yang dirasakan ibu saya dulu. Saya merasa generasi muda zaman sekarang mengalami degradasi moral. Perkelahian antar pelajar, aborsi, mabuk-mabukan, narkoba, pergaulan bebas selalu menghiasi berita – berita di surat kabar. Dalam hati saya bertanya, sebenarnya apa yang terjadi pada generasi muda saat ini. Melihat tingkah pola mereka saat ini apa mungkin ke depannya mereka bisa membawa negara ini semakin maju atau justru semakin terpuruk? Akhirnya kegalauan saya ini terjawab dengan diluncurkannya gerakan literasi sekolah oleh pemerintah dalam upaya menumbuhkan budi pekerti.
Literasi sekolah yang dilakukan berupa kegiatan membaca yang kemudian diikuti dengan kegiatan menulis yang dilakukan tiap sekolah selama lima belas menit setiap harinya sebelum pelajaran dimulai. Adapun rangkaian kegiatannya sebagai berikut :
1.      Setiap harinya, setelah berdoa siswa mengawali harinya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan satu buah lagu wajib nasional. Sekilas kita pasti bertanya apa manfaatnya, tapi menurut saya manfaatnya sungguh luar biasa. Setuju atau tidak setuju kita lihat generasi saat ini semakin turun rasa nasionalismenya. Mereka bangga dengan bangsa lain, mengagungkan negara – negara lain, mengidolakan tokoh dari negara – negara lain tanpa mengenal siapa yang berjasa pada republik ini. Dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu wajib nasional, kita berharap hal tersebut mampu menumbuhkan rasa nasionalisme mereka. Makna yang terkandung dalam lirik lagu – lagu tersebut, menjadi sebuah harapan bagi kita untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air.
2.      Membaca lima belas menit sebelum pelajaran dimulai. Untuk tahap awal siswa disarankan membaca buku cerita atau dongeng. Mengapa cerita atau dongeng yang dipilih? Karena cerita atau dongeng, menurut Durahman (2007) merupakan karya sastra yang menghibur dan mendidik. Fungsi karya sastra yang menghibur diharapkan dapat merangsang siswa untuk gemar membaca, sedangkan fungsi mendidik diharapkan dapat membantu tercapainya tujuan literasi sekolah yaitu tumbuhnya budi pekerti. Seperti kita ketahui bersama, bahwa dalam dongeng atau cerita banyak sekali berisi ajaran tentang nilai – nilai moral. Harapan pemerintah, siswa bisa mengmabil hikmah dari cerita yang dibacanya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari. Setelah budaya membaca itu menjadi kegemaran, kita bisa mengarahkan siswa untuk mulai membaca berbagai buku teks lain yang mereka suka, yang sekiranya mampu meningkatkan prestasi belajar mereka. Tentunya jika gerakan literasi sekolah ini sukses, kita tidak akan lagi menjadi negara terburuk kedua dalam hal literasi.
3.      Mengakhiri pelajaran dengan menyanyikan lagu daerah. Indonesia kaya akan beraneka ragam budaya, namun sayangnya minim sekali upaya untuk melestarikannya. Setidaknya cara yang sederhana untuk melestarikan budaya tersebut dengan cara menyanyikan lagu daerah masing – masing. Siswa – siswi kita lebih mengenal lagu – lagu barat, Korean-pop, namun tidak kenal lagu daerahnya sendiri. Harapan kita mereka mengenal dan cinta akan lagu daerahnya masing – masing.
Sederhana bukan? Tapi, yakinlah ketika literasi sekolah ini berjalan dengan lancar, Indonesia akan menciptakan generasi emas di tahun 2045. Amiinn.


Pelaksanaan
Ketika pelatihan menulis berlangsung, saya mempunyai tekad untuk menerapkan literasi sekolah ini di sekolah tempat saya mengajar. Dengan semangat ’45 saya menyampaikan tentang literasi sekolah ini kepada kepala sekolah. Namun, tanggapan beliau membuat saya berkecil hati bahwa kegiatan ini akan berjalan dengan baik di sekolah. Kepala sekolah menyampaikan bahwa beliau menunggu instruksi resmi dari Kepala Dinas PPO untuk pelaksanaan kegiatan ini, dan beliau menyarankan kalau saya boleh menerapkan kegiatan ini dulu pada kelas – kelas yang menjadi tanggung jawab saya.
Namun, saya tak patah arang. Saya mencoba untuk menerapkannya pada kelas yang menjadi tanggung jawab saya. Ketika saya mencoba menyampaikan hal ini pada siswa – siswi saya, tanggapan merekapun beragam, ada yang positif ada pula yang negatif. “Menyanyikan lagu nasional? Ah, nggak keren itu, Bu. Lebih keren nyanyi lagu barat,” celoteh mereka. “ Ih, baca novel? Seperti perempuan saja,” celoteh murid pria. “Wah , asyik tuh, Ibu.  Kapan dimulainya, Bu?” tanggapan mereka yang antusias. Apapun komentar mereka, saya mencoba untuk menerapkan kegiatan ini. Hambatanpun muncul ketika saya menyadari bahwa di perpustakaan sekolah saya hanya dipenuhi dengan buku – buku pelajaran. Bagaimana mungkin mereka bisa gemar membaca ketika dalam menumbuhkan upaya gemar membaca mereka dihadapkan dengan buku – buku yang memerlukan waktu lebih banyak untuk mencernanya? Saya pun mencoba mencari solusi dengan meminta mereka membawa novel atau buku cerita dari rumah. Dan apa komentar mereka? “ Ibu, buku pelajaran saja kita tidak beli, apalagi buku cerita,” komentar salah satu siswa. “ Jangankan beli buku cerita, beli buku pelajaran saja mama tidak punya uang,” komentar siswa yang lain. Ada juga sih yang antusias, “Buku cerita apa saja boleh ibu? Komik boleh?” Namun ketika memberikan solusi ini, dalam hati saya bertanya, apakah buku yang nantinya mereka bawa itu layak dibaca? Ahhh…. Sepertinya menerapkan gerakan literasi sekolah ini tak semudah yang saya bayangkan. Saya butuh dukungan, baik dari kepala sekolah maupun guru yang lain. Saya butuh buku. Saya butuh alokasi waktu khusus sehingga tidak menyita jam efektif saya mengajar. Saya butuh fasilitas. Dan masih banyak lagi. Apakah saya menyerah? Ya, untuk saat ini saya menyerah. Tapi, tidak untuk ke depannya. Kondisi fisik saya saat ini yang menjadi hambatan bagi saya. Tapi saya bertekad di semester depan saya akan mulai merancang menerapkan literasi sekolah ini, khususnya di anak wali saya. Bersama dengan mereka saya akan merancang konsep sudut baca kelas, dan sepertinya saya harus membongkar koleksi buku cerita pribadi saya untuk dimanfaatkan orang lain dan bersiap diri apabila buku itu hilang. Hiks…Hiks…
Sekalipun program literasi sekolah ini belum berjalan di sekolah saya, tak henti – hentinya saya memotivasi mereka untuk membaca dan membaca. Betapa membaca itu menjadi hal yang penting dalam kehidupan ini, sampai – sampai ayat pertama yang difirmankan Allah pada Rasulullah Muhammad adalah Iqro, “Bacalah!” Saya berusaha memberi pemahaman kepada mereka tentang kemustahilan kita untuk bersaing dengan negara lain jika kita tak mau membaca. Tengoklah negara Jepang, yang menjadi salah satu macan Asia. Bagaimana budaya membaca di Jepang? Bagaimana fasilitas perpustakaan di Jepang? Bagaimana ketersediaan bahan bacaan di Jepang? Atau negara tetangga kita Malaysia. Beberapa masa yang lalu Malaysia berguru pada kita, namun sekarang Malaysia sudah melesat meninggalkan kita. Apakah saya lebih bangga pada Jepang dan Malaysia? Tidak, saya selalu bangga menjadi warga Indonesia, namun saya ingin negara kita lebih maju mengalahkan Jepang dan Malaysia. Jadi, tidak salahkan kalau kita menjadikan mereka motivasi agar kita bisa lebih maju dari mereka?
Di penghujung uraian saya, besar harapan saya agar pemerintah segera menurunkan juknis tentang program literasi ini, agar program ini dapat segera terlaksana di sekolah – sekolah. Tak lupa saya berharap pemerintah mengupayakan menambah ketersediaan buku yang layak dibaca oleh siswa sekolah serta peningkatan fasilitas perpustakaan. Saya berharap pemerintah meningkatkan peran perpustakaan – perpustakaan untuk menyukseskan program ini. Jadikan perpustakaan tempat yang menarik sehingga menarik pengunjung untuk datang dan tertarik untuk menghabiskan waktu di sana untuk menghabiskan isi buku di perpustakaan dengan cara membaca. Kepada rekan – rekan guru saya menghimbau bahwa suksesnya program ini bukan hanya bergantung pada guru Bahasa Indonesia, tapi bergantung pada kita semua. Dengan menyukseskan program ini, insyaallah kita bisa menyongsong generasi emas di tahun 2045. Kepada diri saya sendiri, saya memotivasi untuk terus membaca dan membaca. Sediakan waktu khusus untuk membaca. Jangan karena alasan kesibukan sehingga tidak meluangkan waktu untuk membaca. Kepada anak – anakku, Ibu berpesan, masa depan bangsa ini ada di tangan kalian. Sedari sekarang persiapkanlah diri kalian menyongsong masa itu dengan membekali diri kalian dengan ilmu dan kompetensi. Lalu, bagaimana kalian mendapatkan ilmu itu? Yaitu dengan membaca. Semoga di tangan kalian bangsa ini menjadi lebih maju dan Indonesia tak lagi menjadi negara yang dipandang dengan sebelah mata. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar