Literasi
Sekolah Menyongsong Generasi Emas Indonesia Tahun 2045
Oleh : Desi
Setyani
Pada tanggal 12
September 2015, saya mendapat tugas dari kepala sekolah untuk mengikuti
kegiatan pelatihan penulisan teks yang diselenggarakan oleh Kantor Balai Bahasa
Provinsi Nusa Tenggara Timur yang akan dilaksanakan pada tanngal 14 s/d 16
September 2015 di Hotel Romyta. Perasaan saya pastinya senang karena saya akan
mendapatkan sebuah ilmu baru. Selain itu, saya juga cemas dengan judul yang
diberikan oleh panitia yaitu “Pelatihan Penulisan Teks bagi Guru bahasa
Indonesia”. Dalam hati saya bertanya, apakah saya bisa menulis? Kalau sekadar
menulis cerpen yang bahasa anak – anak sekarang disebut cerita abal – abal,
mungkin saya bisa. Tapi kalau menulis teks???? Teks di sini dalam pemahaman
saya pastinya teks seperti yang tertuang dalam buku – buku pelajaran. Apakah
saya bisa? Hanya Tuhan yang tahu.
Mengawali
tulisan ini, saya ingin bercerita sedikit tentang siapa saya dan apa yang
sedang saya kerjakan saat ini. Saat ini, saya sedang bertugas menjadi seorang
guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah Negeri Kupang serta staff Wakamad
(Wakil Kepala Madrasah) bagian kurikulum. Sejujurnya, menjadi seorang guru
bukanlah cita – cita saya yang sebenarnya. Tapi ternyata inilah jalan yang
Tuhan pilihkan untuk saya. Mengutip kata – kata dari Ustadz saya sewaktu di
Sidoarjo, apa yang saya jalani saat ini ibaratnya “tersesat di jalan yang
benar”.
Sebagai seorang
guru, saya masih jauh dari kata sempurna. Saya belum bisa menjadi teladan bagi
anak didik saya. Saya masih sering marah – marah kepada anak didik saya, bahkan
tak segan saya memberikan sanksi ketika mereka melanggar aturan yang saya
terapkan. Ingin sekali saya seperti ayah mertua saya yang juga guru Bahasa
Indonesia. Sekalipun dari penampilan beliau terkesan garang tapi siswa – siswi
beliau segan kepada beliau. Ingat segan bukan takut. Beliau senantiasa
mengingatkan kepada saya untuk mengajar dengan hati. Namun, sungguh kata – kata
itu begitu mudah untuk diucapkan tapi tak mudah untuk diterapkan. Berkali –
kali saya mencoba dan berusaha namun emosi kadang masih mengalahkan keinginan
saya. Tapi, insyaallah saya tidak akan pernah jemu untuk berusaha menjadi guru
yang spesial di mata murid saya. Seorang guru yang disegani, sekaligus bisa
menjadi tempat mereka berkeluh kesah ketika mereka ditimpa masalah. Guru yang
bukan sekadar mengajar tapi juga membimbing serta mendidik. Ya Rabb, berikanlah
aku kesabaran dalam menjalani profesiku ini dan kemampuan untuk menyelesaikan
tugas – tugasku.
Literasi Sekolah dan Budi Pekerti
Masih terekam
dalam ingatan saya, ketika saya masih kecil ibu pernah berkata kepada saya
bahwa sopan santun zaman sekarang sudah berkurang. Di zaman ibu masih kecil
seorang anak atau siswa ketika guru atau orang tua marah tidak akan berani
menatap mata orang tersebut. Berbeda dengan zaman saya yang ibu katakan terlalu
berani. Orang tua marah bukannya menunduk menyesali kesalahan tapi malah
menegakkan kepala seakan – akan menantang. Setelah saya menjadi seorang guru,
ternyata saya juga mengalami hal yang dirasakan ibu saya dulu. Saya merasa
generasi muda zaman sekarang mengalami degradasi moral. Perkelahian antar
pelajar, aborsi, mabuk-mabukan, narkoba, pergaulan bebas selalu menghiasi
berita – berita di surat kabar. Dalam hati saya bertanya, sebenarnya apa yang
terjadi pada generasi muda saat ini. Melihat tingkah pola mereka saat ini apa
mungkin ke depannya mereka bisa membawa negara ini semakin maju atau justru
semakin terpuruk? Akhirnya kegalauan saya ini terjawab dengan diluncurkannya
gerakan literasi sekolah oleh pemerintah dalam upaya menumbuhkan budi pekerti.
Literasi sekolah yang dilakukan
berupa kegiatan membaca yang kemudian diikuti dengan kegiatan menulis yang
dilakukan tiap sekolah selama lima belas menit setiap harinya sebelum pelajaran
dimulai. Adapun rangkaian kegiatannya sebagai berikut :
1.
Setiap
harinya, setelah berdoa siswa mengawali harinya dengan menyanyikan lagu
Indonesia Raya dan satu buah lagu wajib nasional. Sekilas kita pasti bertanya
apa manfaatnya, tapi menurut saya manfaatnya sungguh luar biasa. Setuju atau
tidak setuju kita lihat generasi saat ini semakin turun rasa nasionalismenya.
Mereka bangga dengan bangsa lain, mengagungkan negara – negara lain,
mengidolakan tokoh dari negara – negara lain tanpa mengenal siapa yang berjasa
pada republik ini. Dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu wajib
nasional, kita berharap hal tersebut mampu menumbuhkan rasa nasionalisme
mereka. Makna yang terkandung dalam lirik lagu – lagu tersebut, menjadi sebuah
harapan bagi kita untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air.
2.
Membaca
lima belas menit sebelum pelajaran dimulai. Untuk tahap awal siswa disarankan
membaca buku cerita atau dongeng. Mengapa cerita atau dongeng yang dipilih?
Karena cerita atau dongeng, menurut Durahman (2007) merupakan karya sastra yang
menghibur dan mendidik. Fungsi karya sastra yang menghibur diharapkan dapat
merangsang siswa untuk gemar membaca, sedangkan fungsi mendidik diharapkan
dapat membantu tercapainya tujuan literasi sekolah yaitu tumbuhnya budi
pekerti. Seperti kita ketahui bersama, bahwa dalam dongeng atau cerita banyak
sekali berisi ajaran tentang nilai – nilai moral. Harapan pemerintah, siswa
bisa mengmabil hikmah dari cerita yang dibacanya dan mengaplikasikannya dalam
kehidupan sehari – hari. Setelah budaya membaca itu menjadi kegemaran, kita
bisa mengarahkan siswa untuk mulai membaca berbagai buku teks lain yang mereka
suka, yang sekiranya mampu meningkatkan prestasi belajar mereka. Tentunya jika
gerakan literasi sekolah ini sukses, kita tidak akan lagi menjadi negara
terburuk kedua dalam hal literasi.
3.
Mengakhiri
pelajaran dengan menyanyikan lagu daerah. Indonesia kaya akan beraneka ragam
budaya, namun sayangnya minim sekali upaya untuk melestarikannya. Setidaknya
cara yang sederhana untuk melestarikan budaya tersebut dengan cara menyanyikan
lagu daerah masing – masing. Siswa – siswi kita lebih mengenal lagu – lagu
barat, Korean-pop, namun tidak kenal lagu daerahnya sendiri. Harapan kita
mereka mengenal dan cinta akan lagu daerahnya masing – masing.
Sederhana bukan? Tapi, yakinlah ketika literasi sekolah ini
berjalan dengan lancar, Indonesia akan menciptakan generasi emas di tahun 2045.
Amiinn.
Pelaksanaan
Ketika
pelatihan menulis berlangsung, saya mempunyai tekad untuk menerapkan literasi
sekolah ini di sekolah tempat saya mengajar. Dengan semangat ’45 saya
menyampaikan tentang literasi sekolah ini kepada kepala sekolah. Namun,
tanggapan beliau membuat saya berkecil hati bahwa kegiatan ini akan berjalan
dengan baik di sekolah. Kepala sekolah menyampaikan bahwa beliau menunggu
instruksi resmi dari Kepala Dinas PPO untuk pelaksanaan kegiatan ini, dan
beliau menyarankan kalau saya boleh menerapkan kegiatan ini dulu pada kelas –
kelas yang menjadi tanggung jawab saya.
Namun, saya tak
patah arang. Saya mencoba untuk menerapkannya pada kelas yang menjadi tanggung
jawab saya. Ketika saya mencoba menyampaikan hal ini pada siswa – siswi saya,
tanggapan merekapun beragam, ada yang positif ada pula yang negatif.
“Menyanyikan lagu nasional? Ah, nggak keren itu, Bu. Lebih keren nyanyi lagu
barat,” celoteh mereka. “ Ih, baca novel? Seperti perempuan saja,” celoteh
murid pria. “Wah , asyik tuh, Ibu. Kapan
dimulainya, Bu?” tanggapan mereka yang antusias. Apapun komentar mereka, saya
mencoba untuk menerapkan kegiatan ini. Hambatanpun muncul ketika saya menyadari
bahwa di perpustakaan sekolah saya hanya dipenuhi dengan buku – buku pelajaran.
Bagaimana mungkin mereka bisa gemar membaca ketika dalam menumbuhkan upaya
gemar membaca mereka dihadapkan dengan buku – buku yang memerlukan waktu lebih
banyak untuk mencernanya? Saya pun mencoba mencari solusi dengan meminta mereka
membawa novel atau buku cerita dari rumah. Dan apa komentar mereka? “ Ibu, buku
pelajaran saja kita tidak beli, apalagi buku cerita,” komentar salah satu
siswa. “ Jangankan beli buku cerita, beli buku pelajaran saja mama tidak punya
uang,” komentar siswa yang lain. Ada juga sih yang antusias, “Buku cerita apa
saja boleh ibu? Komik boleh?” Namun ketika memberikan solusi ini, dalam hati
saya bertanya, apakah buku yang nantinya mereka bawa itu layak dibaca? Ahhh….
Sepertinya menerapkan gerakan literasi sekolah ini tak semudah yang saya
bayangkan. Saya butuh dukungan, baik dari kepala sekolah maupun guru yang lain.
Saya butuh buku. Saya butuh alokasi waktu khusus sehingga tidak menyita jam
efektif saya mengajar. Saya butuh fasilitas. Dan masih banyak lagi. Apakah saya
menyerah? Ya, untuk saat ini saya menyerah. Tapi, tidak untuk ke depannya.
Kondisi fisik saya saat ini yang menjadi hambatan bagi saya. Tapi saya bertekad
di semester depan saya akan mulai merancang menerapkan literasi sekolah ini,
khususnya di anak wali saya. Bersama dengan mereka saya akan merancang konsep
sudut baca kelas, dan sepertinya saya harus membongkar koleksi buku cerita
pribadi saya untuk dimanfaatkan orang lain dan bersiap diri apabila buku itu
hilang. Hiks…Hiks…
Sekalipun
program literasi sekolah ini belum berjalan di sekolah saya, tak henti –
hentinya saya memotivasi mereka untuk membaca dan membaca. Betapa membaca itu
menjadi hal yang penting dalam kehidupan ini, sampai – sampai ayat pertama yang
difirmankan Allah pada Rasulullah Muhammad adalah Iqro, “Bacalah!” Saya
berusaha memberi pemahaman kepada mereka tentang kemustahilan kita untuk
bersaing dengan negara lain jika kita tak mau membaca. Tengoklah negara Jepang,
yang menjadi salah satu macan Asia. Bagaimana budaya membaca di Jepang?
Bagaimana fasilitas perpustakaan di Jepang? Bagaimana ketersediaan bahan bacaan
di Jepang? Atau negara tetangga kita Malaysia. Beberapa masa yang lalu Malaysia
berguru pada kita, namun sekarang Malaysia sudah melesat meninggalkan kita.
Apakah saya lebih bangga pada Jepang dan Malaysia? Tidak, saya selalu bangga
menjadi warga Indonesia, namun saya ingin negara kita lebih maju mengalahkan
Jepang dan Malaysia. Jadi, tidak salahkan kalau kita menjadikan mereka motivasi
agar kita bisa lebih maju dari mereka?
Di penghujung uraian saya, besar harapan saya agar pemerintah
segera menurunkan juknis tentang program literasi ini, agar program ini dapat
segera terlaksana di sekolah – sekolah. Tak lupa saya berharap pemerintah
mengupayakan menambah ketersediaan buku yang layak dibaca oleh siswa sekolah
serta peningkatan fasilitas perpustakaan. Saya berharap pemerintah meningkatkan
peran perpustakaan – perpustakaan untuk menyukseskan program ini. Jadikan
perpustakaan tempat yang menarik sehingga menarik pengunjung untuk datang dan
tertarik untuk menghabiskan waktu di sana untuk menghabiskan isi buku di
perpustakaan dengan cara membaca. Kepada rekan – rekan guru saya menghimbau
bahwa suksesnya program ini bukan hanya bergantung pada guru Bahasa Indonesia,
tapi bergantung pada kita semua. Dengan menyukseskan program ini, insyaallah
kita bisa menyongsong generasi emas di tahun 2045. Kepada diri saya sendiri,
saya memotivasi untuk terus membaca dan membaca. Sediakan waktu khusus untuk
membaca. Jangan karena alasan kesibukan sehingga tidak meluangkan waktu untuk
membaca. Kepada anak – anakku, Ibu berpesan, masa depan bangsa ini ada di
tangan kalian. Sedari sekarang persiapkanlah diri kalian menyongsong masa itu
dengan membekali diri kalian dengan ilmu dan kompetensi. Lalu, bagaimana kalian
mendapatkan ilmu itu? Yaitu dengan membaca. Semoga di tangan kalian bangsa ini
menjadi lebih maju dan Indonesia tak lagi menjadi negara yang dipandang dengan
sebelah mata. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar