A.
IDENTITAS
BUKU
Judul Buku : Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke
Roma
Pengarang : Idrus
Penerbit : Pusat Bahasa
Jumlah Halaman : 176 halaman
B.
ISI
BUKU
Idrus merupakan seorang pembaharu puisi dan sastra ketika zaman
Jepang. Sebagian besar karya beliau membicarakan persoalan yang terjadi di
tahun 1945. Namun, beliau enggan digolongkan sebagai penulis angkatan 45. Gaya
menulis beliau yang khas pada masa itu, mendorong H.B Jassin menobatkan beliau
sebagai pelopor Angkatan 45 di bidang penulisan prosa. Buku Dari Ave Maria ke
Jalan lain ke Roma merupakan kumpulan beberapa karangan Idrus dari semenjak
kedatangan Jepang pada tahun 1942 sampai dengan setelah 17 Agustus 1945.
Buku ini terbagi menjadi 3 yaitu Zaman Jepang, Coret – Coret di
Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Di bagian zaman Jepang terdiri dari 2
cerita yaitu Ave Maria dan Kejahatan Membalas Dendam. Bagian Corat – coret di
Bawah Tanah terdiri dari 7 cerita yaitu, Kota Harmoni, Jawa Baru, Pasar Malam
Zaman Jepang, Sanyo, Fujinkai, Oh..Oh..Oh!, dan Heiho. Sementara itu Bagian
Sesudah 17 Agustus 1945 terdiri dari 3 cerita, yaitu Kisah Sebuah Celana
Pendek, Surabaya, dan Jalan Lain ke Roma.
Di bagian Zaman Jepang cerita tersebut bersifat romantik. Cerita
Ave Maria menceritakan tentang kisah cinta seorang pemuda yang bernama
Zulbahri. Zulbahri mempunyai istri yang bernama Wartini, rumah tangga mereka
awalnya bahagia, sekalipun belum dikarunia anak. Masalah muncul ketika Syamsu
adik Zulbahri mulai tinggal di rumahnya. Zulbahri selalu merasa bahwa ia
bersalah karena telah merebut Warsini dari Syamsu. Karena perasaannya itu serta
fakta yang dia dengar ketika Warsini bertanya pada Syamsu tentang kemungkinan
seorang wanita bisa mencintai dua orang sekaligus. Zulbahri memilih menyerah
dan merelakan Warsini untuk Syamsu. Hidup terluntang – lantung untuk beberapa
saat menghantarkan dia pada kesadaran bahwa selama ini dia hanya memikirkan
kepentingan pribadinya tanpa ingat akan negaranya tercinta. Atas kesadarannya
itu dia memilih bergabung dengan Jibaku bukan karena pengkhianatan adik dan
istrinya, namun karena semata-mata tulus ikhlas berkorban untuk nusa bangsa,
sebagi pembayaran kepada tanah air yang terlupakan karena urusan pribadi. Menjadi
sebuah perenungan bagi kita, apakah selama ini kita sudah memperhatikan
kepentingan negara, ataukah kita hanya terlena dengan kehidupan pribadi kita?
Cerita yang kedua yang berjudul Kejahatan Membalas Dendam, masih
juga bersifat romantik. Tersebutlah seorang pengarang muda bernama Ishak dengan
gaya cerita yang berbeda dengan
pendahulunya. Ia terpuruk dan hendak melarikan diri ke gunung karena takut
disebut pengkhianat. Hal ini bermula ketika karyanya mendapat kritik dari seseorang
yang bernama Pak Orok. Dia merasa Pak Orok menghinakannya dan menganggapnya
sebagai pengkhianat. Dia berniat menyembunyikan diri untuk sementara waktu,
bahkan memutuskan pertunangannya dengan Satilawati, yang tidak lain merupakan
anak pak Orok (Suksoro). Pak Suksoro berkehendak memisahkan satilawati dengan
Ishak, bahkan meminta bibinya yang seorang dukun untuk memisahkan mereka.
Satilawatipun mendapat godaan dari Kartili untuk memadu kasih dengannya, namun
Satilawati bersikukuh dengan cintanya pada Ishak. Keadaan cukup memanas, hingga
akhirnya terkuaklah rahasia bahwa Kartili adalah dalang dari perubahan perilaku
Ishak. Selama ini Kartili yang seorang dokter mendoktrinkan pada Ishak bahwa ia
mengidap penyakit gila karena factor keturunan. Pak Orok alias Suksoropun
akhirnya bisa menerima perbedaannya dengan Ishak karena pemahaman diberikan
oleh Asmadiputera.
Berbeda dengan bagian pertama yang berupa cerita romantik, di
bagian 2 ini lebih bercerita tentang penderitaan rakyat di zaman penjajahan
Jepang. Semua cerita di bagian ini menceritankan bagaimana sengsaranya rakyat
ketika zaman Jepang. Mulai dari trem yang berdesak-desakan, mahalnya harga
pangan, serta kerasnya peraturan yang ditegakkan Jepang. Selain itu dalam
bagian ini juga diceritakan tentang Jepang yang meraih simpati bangsa Indonesia
dengan menjanjikan kemerdekaan, yang sebenarnya adalah bualan saja. Ia hendak
meraih simpati rakyat Indonesia agar dengan sukarela menuruti pemerintah
Jepang. Mereka memanfaatkan Fujinkai sebagai media kampanye mereka. Menyebarkan
hal – hal yang mereka anggap baik dan meminta ucapan terima kasih dari rakyai. Selain
itu diceritakan pula bagaimana kelicikan Jepang, mereka membuka pasar malam,
yang dianggap sebagai hiburan rakyat, namun sebenarnya hal itu untuk membodohi
bangsa Indonesia, dan mengeruk keuntungan sebesar – besarnya untuk kepentingan
pribadi penjajah Jepang. Dibentuknya Heiho, membuat para pria yang bergaji
rendah berminat untuk bergabung dalam Heiho, namun sayangnya tidak sesuai
dengan harapan mereka. Mereka semakin terpuruk dan terpuruk.
Bagian ke tiga buku ini masih juga menceritakan penderitaan rakyat
Indonesia, tapi di zaman yang berbeda, yaitu di zaman kedatangan Sekutu sebagai
tanda menyerahnya Jepang pada Sekutu. Kisah Sebuah Celana Pendek menceritakan
seorang yang bernama Kusno yang mendapat hadiah celana dari ayahnya, harapan
ayahnya, setelah Kusno tamat SR dia mendapat pekerjaan yang layak. Namun,
sayangnya hal itu tidak terwujud. Dia tidak jua dapat pekerjaan yang layak
bahkan celana yang diberi oleh ayahnya sudah lusuh. Masih senada dengan kisah
sebuah celana pendek, Kisah Surabaya menggambarkan betapa nestapanya
penderitaan rakyat ketika Sekutu berusaha melucuti senjata tentara Indonesia.
Berbeda dengan cerita Jalan Lain ke Roma, yang secara garis besar bahwa kita
tidak perlu takut berbeda dengan orang lain, selama kita yakin tujuan kita
benar.
C.
REKOMENDASI
Buku ini cocok
untuk dibaca oleh siswa SMU, selain dari segi Bahasanya lebih mudah dicerna
anak usia SMU, cerita ini bisa menjadi pelajaran bagi mereka agar mereka sadar
betapa untuk mencapai kemerdekaan dibutuhkan perjuangan yang berat. Diperlukan
pengorbanan jiwa dan raga untuk mencapai kemerdekaan sehingga mereka
termotivasi untuk mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif.
D.
GAGASAN
YANG MUNCUL
Gagasan yang
muncul ketika membaca buku ini adalah alangkah baiknya jika buku ini dibuat
film agar. Pasti menjadi tontonan yang berharga dari pada sekedar melihat
sinetron yang tersebar di layar televise saat ini. Agar filmnya tidak
menyimpang jauh dari sejarah, maka perlu dilakukan observasi agar mendekati
sejarah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar