Selasa, 17 November 2015

DARI AVE MARIA KE JALAN LAIN KE ROMA



A.  IDENTITAS BUKU
Judul Buku             : Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Pengarang               : Idrus
Penerbit                  : Pusat Bahasa
Jumlah Halaman     : 176 halaman


B.  ISI BUKU
Idrus merupakan seorang pembaharu puisi dan sastra ketika zaman Jepang. Sebagian besar karya beliau membicarakan persoalan yang terjadi di tahun 1945. Namun, beliau enggan digolongkan sebagai penulis angkatan 45. Gaya menulis beliau yang khas pada masa itu, mendorong H.B Jassin menobatkan beliau sebagai pelopor Angkatan 45 di bidang penulisan prosa. Buku Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma merupakan kumpulan beberapa karangan Idrus dari semenjak kedatangan Jepang pada tahun 1942 sampai dengan setelah 17 Agustus 1945.
Buku ini terbagi menjadi 3 yaitu Zaman Jepang, Coret – Coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Di bagian zaman Jepang terdiri dari 2 cerita yaitu Ave Maria dan Kejahatan Membalas Dendam. Bagian Corat – coret di Bawah Tanah terdiri dari 7 cerita yaitu, Kota Harmoni, Jawa Baru, Pasar Malam Zaman Jepang, Sanyo, Fujinkai, Oh..Oh..Oh!, dan Heiho. Sementara itu Bagian Sesudah 17 Agustus 1945 terdiri dari 3 cerita, yaitu Kisah Sebuah Celana Pendek, Surabaya, dan Jalan Lain ke Roma.
Di bagian Zaman Jepang cerita tersebut bersifat romantik. Cerita Ave Maria menceritakan tentang kisah cinta seorang pemuda yang bernama Zulbahri. Zulbahri mempunyai istri yang bernama Wartini, rumah tangga mereka awalnya bahagia, sekalipun belum dikarunia anak. Masalah muncul ketika Syamsu adik Zulbahri mulai tinggal di rumahnya. Zulbahri selalu merasa bahwa ia bersalah karena telah merebut Warsini dari Syamsu. Karena perasaannya itu serta fakta yang dia dengar ketika Warsini bertanya pada Syamsu tentang kemungkinan seorang wanita bisa mencintai dua orang sekaligus. Zulbahri memilih menyerah dan merelakan Warsini untuk Syamsu. Hidup terluntang – lantung untuk beberapa saat menghantarkan dia pada kesadaran bahwa selama ini dia hanya memikirkan kepentingan pribadinya tanpa ingat akan negaranya tercinta. Atas kesadarannya itu dia memilih bergabung dengan Jibaku bukan karena pengkhianatan adik dan istrinya, namun karena semata-mata tulus ikhlas berkorban untuk nusa bangsa, sebagi pembayaran kepada tanah air yang terlupakan karena urusan pribadi. Menjadi sebuah perenungan bagi kita, apakah selama ini kita sudah memperhatikan kepentingan negara, ataukah kita hanya terlena dengan kehidupan pribadi kita?
Cerita yang kedua yang berjudul Kejahatan Membalas Dendam, masih juga bersifat romantik. Tersebutlah seorang pengarang muda bernama Ishak dengan gaya cerita yang berbeda  dengan pendahulunya. Ia terpuruk dan hendak melarikan diri ke gunung karena takut disebut pengkhianat. Hal ini bermula ketika karyanya mendapat kritik dari seseorang yang bernama Pak Orok. Dia merasa Pak Orok menghinakannya dan menganggapnya sebagai pengkhianat. Dia berniat menyembunyikan diri untuk sementara waktu, bahkan memutuskan pertunangannya dengan Satilawati, yang tidak lain merupakan anak pak Orok (Suksoro). Pak Suksoro berkehendak memisahkan satilawati dengan Ishak, bahkan meminta bibinya yang seorang dukun untuk memisahkan mereka. Satilawatipun mendapat godaan dari Kartili untuk memadu kasih dengannya, namun Satilawati bersikukuh dengan cintanya pada Ishak. Keadaan cukup memanas, hingga akhirnya terkuaklah rahasia bahwa Kartili adalah dalang dari perubahan perilaku Ishak. Selama ini Kartili yang seorang dokter mendoktrinkan pada Ishak bahwa ia mengidap penyakit gila karena factor keturunan. Pak Orok alias Suksoropun akhirnya bisa menerima perbedaannya dengan Ishak karena pemahaman diberikan oleh Asmadiputera.
Berbeda dengan bagian pertama yang berupa cerita romantik, di bagian 2 ini lebih bercerita tentang penderitaan rakyat di zaman penjajahan Jepang. Semua cerita di bagian ini menceritankan bagaimana sengsaranya rakyat ketika zaman Jepang. Mulai dari trem yang berdesak-desakan, mahalnya harga pangan, serta kerasnya peraturan yang ditegakkan Jepang. Selain itu dalam bagian ini juga diceritakan tentang Jepang yang meraih simpati bangsa Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan, yang sebenarnya adalah bualan saja. Ia hendak meraih simpati rakyat Indonesia agar dengan sukarela menuruti pemerintah Jepang. Mereka memanfaatkan Fujinkai sebagai media kampanye mereka. Menyebarkan hal – hal yang mereka anggap baik dan meminta ucapan terima kasih dari rakyai. Selain itu diceritakan pula bagaimana kelicikan Jepang, mereka membuka pasar malam, yang dianggap sebagai hiburan rakyat, namun sebenarnya hal itu untuk membodohi bangsa Indonesia, dan mengeruk keuntungan sebesar – besarnya untuk kepentingan pribadi penjajah Jepang. Dibentuknya Heiho, membuat para pria yang bergaji rendah berminat untuk bergabung dalam Heiho, namun sayangnya tidak sesuai dengan harapan mereka. Mereka semakin terpuruk dan terpuruk.
Bagian ke tiga buku ini masih juga menceritakan penderitaan rakyat Indonesia, tapi di zaman yang berbeda, yaitu di zaman kedatangan Sekutu sebagai tanda menyerahnya Jepang pada Sekutu. Kisah Sebuah Celana Pendek menceritakan seorang yang bernama Kusno yang mendapat hadiah celana dari ayahnya, harapan ayahnya, setelah Kusno tamat SR dia mendapat pekerjaan yang layak. Namun, sayangnya hal itu tidak terwujud. Dia tidak jua dapat pekerjaan yang layak bahkan celana yang diberi oleh ayahnya sudah lusuh. Masih senada dengan kisah sebuah celana pendek, Kisah Surabaya menggambarkan betapa nestapanya penderitaan rakyat ketika Sekutu berusaha melucuti senjata tentara Indonesia. Berbeda dengan cerita Jalan Lain ke Roma, yang secara garis besar bahwa kita tidak perlu takut berbeda dengan orang lain, selama kita yakin tujuan kita benar.

C.  REKOMENDASI
Buku ini cocok untuk dibaca oleh siswa SMU, selain dari segi Bahasanya lebih mudah dicerna anak usia SMU, cerita ini bisa menjadi pelajaran bagi mereka agar mereka sadar betapa untuk mencapai kemerdekaan dibutuhkan perjuangan yang berat. Diperlukan pengorbanan jiwa dan raga untuk mencapai kemerdekaan sehingga mereka termotivasi untuk mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif.

D.  GAGASAN YANG MUNCUL
Gagasan yang muncul ketika membaca buku ini adalah alangkah baiknya jika buku ini dibuat film agar. Pasti menjadi tontonan yang berharga dari pada sekedar melihat sinetron yang tersebar di layar televise saat ini. Agar filmnya tidak menyimpang jauh dari sejarah, maka perlu dilakukan observasi agar mendekati sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar